#Singgalang Tumblr posts

  • ordinarymanjournal
    18.05.2022 - 1 day ago

    Beautiful afternoon. Still on office, they said that temperature rise at the middle of day. #office #afternoon #nature #landscapes #naturephotography #landscapephotography #urban #bukittinggi #agam #westsumatera #singgalang #mount #light #sunset #building #residence (at Disdikbud Kota Bukittinggi) https://www.instagram.com/p/CdsoyJfvPTi/?igshid=NGJjMDIxMWI=

    View Full
  • sumbartodaynews
    02.03.2022 - 2 monts ago

    Polres Pessel Gelar Operasi Keselamatan Singgalang 2022

    Polres Pessel Gelar Operasi Keselamatan Singgalang 2022

    Pesisir Selatan – Polres Pessel Gelar Operasi Keselamatan Singgalang 2022. Polres Pesisir Selatan gelar Operasi Keselamatan Singgalang Tahun 2022 dengan 7 (tujuh) pelanggaran dan 1 (satu) atensi yang harus dipatuhi. Polres Pesisir Selatan siap melaksanakan “Operasi Keselamatan Singgalang 2022” ditandai dengan melaksanakan apel gelar Pasukan yang dilaksanakan dihalaman Mapolres Pesisir Selatan…

    View On WordPress

    View Full
  • datiakid
    25.02.2022 - 2 monts ago

    Sentra Ternak DD Farm Rumah Gadang, Sejahterakan Mustahik

    Sentra Ternak DD Farm Rumah Gadang, Sejahterakan Mustahik

    Sentra Ternak DD Farm Rumah Gadang berusia sekitar 1 tahun. Namun, sudah bisa berkontribusi untuk masyarakat miskin di sekitarnya. Bahkan, peternakan ini mampu mengubah seorang mustahik menjadi muzaki. Apa rahasianya? Sentra Ternak DD Farm Rumah Gadang terletak di Simpang Ampek Toboh Sikumbang, Nagari Balahaie, Kecamatan VII Kota Sungai Sariak, Kabupaten Padangpariaman. Peternakan domba ini…

    View On WordPress

    #Berita Padangpariaman#Berita Sumbar #Dinas Peternakan Padangpariaman #Dinas Peternakan Sumbar #Dompet Duafa Singgalang #Kecamatan VII Koto Sungai Sariak #Nagari Balah Aie #PLN Sumbar #PLN UP2D Sumbar
    View Full
  • shofwankarim2
    04.02.2022 - 3 monts ago

    Paradoks Populisme Eksklusif-Inklusif

    Paradoks Populisme Eksklusif-Inklusif Oleh Shofwan Karim Istilah populisme ekslusif (Exclusive Populism) di dalam wacana tulisan ini  adalah diksi pinjaman dari Rober W Hefner (2016). Guru Besar Universitas Boston ini menggambarkan era Donald Trump (DT), Presiden Amerika 2014-2018. DT terkenal populis atau berpihak kepada rtakyat dan popular karena teriakan dan  programnya yang menolak pihak…

    View On WordPress

    #.imeskafam #.shofwankarims #Komentar Haruian Singgalang #Shofwan Karim
    View Full
  • muhammadiyahsumbar
    22.12.2021 - 4 monts ago

    Terbaik Dunia, Lalu Apa Setelah Itu?

    Terbaik Dunia, Lalu Apa Setelah Itu?
    📷 Gamawan FauziSebuah kabar datang dari Jeddah, kota di tepi Laut Merah yang bersejarah itu: Masjid Raya Sumatera Barat, terpilih sebagai masjid dengan arsitektur terbaik dunia.Hangat hati kita menerima berita itu. Makan tangan kita sesekali-sekali mendunia. Acap, sejarah besar lahir dari kawasan yang tak diduga-duga. Randang misalnya, juara satu dunia juga. Nagari tua Pariangan, nomor satu pula. Tiga bertirit-tirit.Sebenarnya bisa empat, tapi ini dalam skala Indonesia. Apa itu? Hari Bela Negara (HBN). Satu-satunya hari besar yang rujukan peristiwanya terjadi di luar Jawa.
    HBN bukti  dari peran Minangkabau untuk Indonesia. Bukti lain? Sumbangan putera-puterinya untuk pembentukan keindonsiaan. HBN itu sendiri ditetapkan Presiden SBY mulai 19 Desember 2006, diangkat dari peristiwa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pada 19 Desember 1948 sampai dengan 13 Juli 1949. Kala itu di bawah langit Indonesia yang gulana, secara spontan, Bapak Sjafrudin Prawira Negara dan Teuku Muhammad Hasan yang didukung masyarakat di Bukittinggi mengumumkan Indonesia masih adasaat Bung Karno dan Bung Hatta ditangkap di Yogyakarta oleh Belanda.Saat menjadi Gubernur Sumbar, kami mengusulkan kepada Presiden SBY untuk dapat menetapkan peristiwa penting itu dengan nama Hari Bela Negara.
    Alhamdulillah Presiden kemudian menyetujuinya. Sejarah batu hadir lagi.Sehari setelah peringatan HBN, yaitu20 Desember 2021 viral berita, Masjid Raya Sumbar ditetapkan oleh Abdulatif Al fozan di Madinah sebagai salah satu masjid dengan arsitektur terbaik di dunia. *Penghargaan itu diterima Konjen Indonesia di Jeddah, Eko Hartono.Arsiteknya seorang anak muda dari Bandung, namanya Rizal Muslimin. Menulislah Gubernur Jabar Ridwan Kamil, seperti ini : “”Masjid ini dahulu adalah hasil sayembara nasional yang dimenangkan oleh kantor arsitek kami dulu, Urbane Indonesia dengan konseptornya Kang Rizal Muslimin yang sekarang jadi dosen di University of Sidney, Australia,” katanya.Selain masjid kita, ada 6 masjid lain di dunia yang dapat penghargaan serupa.
    Tatkala masjid di jalan Khatib Sulaiman itu, mulai dibangun, tak seorang pun yang akan menyangka, akan jadi terbaik di dunia. Kami sebagai gubernur waktu itu, tergerak hati untuk mambangun masjid yang representatif. Ini, antara lain, karena kala itu Wapres Jusuf Kalla, bertanya “adakah masjid bagus di Padang jika ada tamu-tamu negara yang akan shalat Jumat”. Tak ada memang.Sebagai gubernur, kami mulai membangun. Kami pergi maka dilanjutkan oleh gubernur berikut. Lalu sekarang, pertanyaannya, bagaimana mengkapitalisasi tiga hal terbaik dunia itu? Tiga, tiga malah, lalu apa setelah ini? Mungkin Pak Gubernur punya rencana terbaik, mari kita tunggu.
    https://hariansinggalang.co.id/terbaik-dunia-lalu-apa-setelah-itu/
    View Full
  • sumbarlivetv
    12.11.2021 - 6 monts ago

    Polda Sumbar Menggelar Operasi Zebra Singgalang 2021

    Polda Sumbar Menggelar Operasi Zebra Singgalang 2021

    Padang, Sumbarlivetv – Polda Sumatera Barat akan menggelar Operasi Kepolisian terpusat dengan sandi Operasi Zebra Singgalang 2021. Pelaksanaannya akan dimulai pada Senin (15/11) mendatang. Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Satake Bayu Setianto, S.Ik mengatakan, Operasi Zebra Singgalang ini digelar selama dua pekan di seluruh Polres jajaran Polda Sumbar. “Operasi Zebra Singgalang dimulai dari…

    View On WordPress

    #Kombes Pol Satake Bayu #Operasi Zebra Singgalang 2021 #polda sumbar#Polresta Padang#sumatra barat#wakapolda Sumbar
    View Full
  • ingatlah
    15.10.2021 - 7 monts ago

    Dua Bangunan Kedai di Pagaruyung Terbakar

    Dua Bangunan Kedai di Pagaruyung Terbakar

    BATUSANGKAR – Dua unit bangunan kedai, juga tempat tinggal di samping Istano Basa Pagaruyung ludes terbakar dalam peristiwa sekira pukul 11.35. Warga dan petugas kebakaran Pemkab Tanah Datar harus susah payah mematikan dan melekolisir rembetan api pada bangunan kedai kayu tersebut hingga dua jam kemudian. Peristiwa di Jorong Balai Janggo Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Jumat (15/10)…

    View On WordPress

    View Full
  • datiak
    19.09.2021 - 8 monts ago

    Operasi Patuh Singgalang 2021 Dimulai, Begini Hindari Tilang

    Operasi Patuh Singgalang 2021 Dimulai, Begini Hindari Tilang

    Padang | Datiak.com – Operasi Patuh Singgalang 2021 bakal dimulai hari ini (20/9/2021). Pelaksanaannya bakal berlangsung se-Sumatera Barat hingga 3 Oktober 2021 mendatang. Hal itu seperti disampaikan oleh Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Satake Bayu Setianto. Katanya, Kepolisian Daerah (Polda) Sumbar beserta jajaran di kabupaten/kota mengelar Operasi Patuh Singgalang 2021 mulai 20 September…

    View On WordPress

    #Berita Padang#Berita Sumbar #Dirlantas Polda Sumbar #Operasi Patuh Singgalang #Polda Sumbar#Polres Padang
    View Full
  • inspirasi-1
    19.09.2021 - 8 monts ago

    H. Basril Djabar Terbebas dari Rayuan Politik Kekuasaan

    H. BASRIL DJABAR: TERBEBAS DARI RAYUAN POLITIK UNTUK KEKUASAAN

    Oleh Shofwan Karim

    Menulis tentang seorang tokoh “beken” tentu banyak dimensi yang saling berhimpitan . Didalam khazanah intelektual dan hati nurani, dimensi ketokohan seseorang itu sulit dijelaskan dengan kata dan kalimat atau diksi tulisan.

    Akan tetapi kata dan kalimat adalah sarana yang tak bisa dikesampingkan ketika seorang tokoh mau dibicarakan. Seorang tokoh bukan karena ditokohkan, apalagi melalui proses formalitas dan pabrikasi birokrasi, produk publikasi media dan wacana politik.

    Di dalam sejarah Minangkabau klasik dan modern, hampir tidak ada tokoh-tokoh besar masa lalu menjadi tokoh karena semata-mata dipilih dalam Pemilu. Mereka berjuang dengan suka dan duka. Bahkan kadang-kadang dengan airmata dan pengorbanan jiwa.

    Sebutlah Dr. H. Abdul Karim Amarrullah, Dr. Abdullah Ahmad, Syekh Djamil Djambek, Syekh Sulaiman Al-Rasuli, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Inyiak H. Agus Salim, Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Yamin, Buya HAMKA, Pak Natsir, Chatib Sulaiman, Bagindo Aziz Chan, Rohana Kudus, Encik Ramah Elyunusiah, Rasuna Said dan seterusnya.

    Ketokohan mereka bukan saja setelah mereka menjadi ulama dan pejuang Islam, menlu, wakil presiden, menteri pengajaran, ulama dan pujangga serta perdana menteri, ideolog, pejuang dan pendidik. Mereka menjadi tokoh sejak dari muda, terus beringsut ke masa dewasa, tua bahkan setelah wafat pun mereka masih mendapat legitimasi sebagai seorang tokoh. Mereka menjadi bjah hati dan bjuah tutur publik.

    Legitimasi ketokohan, mereka sandang bukan instan tetapi dalam proses yang panjang, alami dan bertahap sehingga sampai ke puncaknya. Dewasa ini terjadi pergeseran.

    Kebanyakan tokoh kita, lahir dari karbitan. Di antaranya adalah hasil modifikasi demokrasi setelah era reformasi. Mereka yang tadinya tidak “apa-apa” dan tidak “siapasiapa”, tiba-tiba saja menjadi tokoh “popular” karena daur politik.

    Ada sedikit modal, ikut partai dan kalau nasib baik terpilih menjadi anggota legislatif. Atau ada sedikit isi pundi dan modal sosial, ikut pemilihan kepala daerah. Maka jadilah ia pimpinan eksekutif. Nanti, bila selesai pengabdiannya di legislatif dan eksekutif itu, maka ia kembali menjadi orang biasa. Tidak ada buku yang ditulis, tidak ada kenangan hidup yang melekat di hati masyarakat dan tidak ada bekas ketokohan yang dikenang.

    Masih syukur dan ini boleh sedikit pengecualian. Di antara mereka yang duduk menjadi tokoh sebagai hasil karbitan tadi mencoba menempa diri. Mereka yang tadi tidak pandai berpidato, karena sudah sering tampil, maka karena “belajar” sambil “bekerja” , sekarang sudah hebat. Berpidato sudah tidak lagi terikat kepada naskah atau teks yang ditulis oleh orang lain. Mereka yang pendidikannya “apa adanya”, maka dengan segala perjuangan yang keras dan liku-liku kehidupan serta disela kesibukan, mereka sekolah atau kuliah eksekutif sore dan malam, akhirnya dapat menyelesaikan pendidikan starata tertentu.

    Mereka yang temasuk kategori ini, adalah tokoh yang perlu diberi apresiasi dan menerima rasa hormat. Apalagi mereka mengembangkan sayap pemikiran, koneksi dan jaringan serta selalu memperkuat tali sitaturrahim secara vertikal, ke tingkat national, dan global serta secara horizontal ke masyarakat dan ummat di wilayah ini.

    Kiprah mereka menjalin komunikasi dan dengan itu semakin memperkuat ketokohannya, bolehlah dianggap sebagai fenomena modern ketokohan di masyarajat yang tengah berubah ini. Mereka adaptif dengan perubahan yang positif. Mereka adalah harapan yang telah mengubah angan-angan menjadi realitas bahwa kita tetap mempunyai tokoh yang “ mumpuni’ dan boleh jadi tokoh ini suatu waktu menjadi tokoh kharismatis dan rasional.

    Kalaulah tidak melampaui, paling tidak mereka mampu mengiringi tokoh besar kita di masa lalu. Berdasarkan sketsa di atas tadi, pertanyaan yang muncul tentu, bagaimana dengan tokoh kita yang satu ini, H. Basril Djabar (HBD) atau kebanyakan kita memanggilnya Uda Bas.

    Sebelum menjawab pertanyaan ini, penulis ingin menggambarkan terlebih dulu pengalaman bersama Uda Bas. Penulis mengenal tokoh kita ini sekitar tahun 1970-an. Waktu itu karena Mingguan Singgalang menjadi Harian Singgalang telah mendongkrak namanya di tengah masyarakat. Begitu pula lantaran kiprahnya di dunia usaha dan bisnis, menambah semarak wibawa dan kharismanya di dunia yang satu ini.

    Oleh karena ingin mengembangkan kekuatan intelektualitas dan kecendekiawanan diri, lebih-lebih karena alasan kehidupan dan ekonomi, Penulis mulai mengirimkan pikiran dalam tulisan ke Koran ini.

    Sejak itu Penulis mulai sering bertemu, bercakap-cakap dan merasa dekat dengan keluarga besar Singgalang . Mereka di antaranya adalah Chairul Harun, Muchlis Sulin, M. Jusfik Helmi, AA Navis, Hamid Djabar, Wisran Hadi, Abrar Yusra dan seterusnya generasi sesudah Inyiak Nasrul Sidik, Nazif Basyir dan Salius St. Sati. Begitu pula generasi belakangan seperti Adi Bermasa, Darlis Syofyan, Fachrul Rasyid HF, Indra Nara Persada, Hasril Chanigo, Khairul Jasmi dan seterusnya.

    Apa lagi di tahun 1980-an penulis diberi kolom dua kali dalam sepekan di halaman satu, Selasa dan Jum’at di bawah tajuk “Bukan Sekedar Perintang Waktu” dan bila Ramadhan datang, menulis pada kolom” Menunggu Beduk Berbuka”.

    Waktu itu penulis diangkat sebagai Editor Tamu pada harian ini. Honor tulisan dari Singgalang telah berjasa membayar biaya kelahiran putri Penulis dari sebuah rumah bidan di sebuah jalan di kota ini pada tahun 1983.

    Di ujung 80-an dan awal 90-an, kaena melanjutkan kuliah di Pascasarajana IAIN (sekarang UIN) Jakarta, Penulis bahkan menjadi koresponden tetap Singgalang di Jakarta. Karena itu hampir tiap minggu bertemu dengan Uda Bas di Kantor Singgalang di Jakarta bersama Kepala Perwakilan Singgalang Suparto HR.

    Di samping merasa dekat dengan Uda Bas, penulis menjadi lebih dekat lagi di tahun 1980-an dan 1990-an itu dengan adiknya H. Bahrum Yonda Djabar. Dengan yang terakhir ini penulis sama-sama pengurus KNPI Sumbar, AMPI bahkan belakangan GOLKAR.

    Pada waktu di KNPI, bahkan Penulis dan Uda Yonda dikirim menjadi utusan Pemuda Indonesia ke Sidang Umum PBB pada Youth Assembly di New York, AS tahun 1988. Sebelum sidang dan sesudahnya kami berdua mengunjungi beberapa negara di Asia dan negera bagian di AS seperti Hawai dan California. Sesudah itu kami dari New York tebang ke Amsterdam dan mengunjungi negara Benelux (Belgia, Netherland dan Luxemburg). Belakangan penulis dan Da Yonda, duduk di DPRD Provinsi Sumbar hasil Pemilu 1992 sampai 1997.

    Penulis semakin merasa dekat dengan Uda Bas sejak kami sama-sama menjadi Dewan Komisaris PT Semen Padang, sejak Oktober 2005 bersama Letjen (Purn.) H. Muzani Syukur, Prof. Dr. H. Elwi Danil, SH., MH dan Dr. Ir. Imam Hidayat.

    Pada ulang tahun Uda Bas 21 April 2008, Penulis merasa tersanjung atas suatu pristiwa yang mengharukan tetapi menggembirakan. Waktu itu Uda Bas rela tidak berada di samping semua sanak keluarga dan anak-anaknya, tetapi bersedia datang ke acara promosi Doktor Penulis di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Selesai promosi kami mensyukurinya sekaligus merayakan ulang tahun Uda Bas yang ke 65 di Wisma Syahida UIN tadi bersama sekitar 200 orang undangan dari Sumbar, Jakarta dan Yogyakarta. Sesuatu yang tak ada bandingannya bagi Penulis. Merayakan ulang tahun Uda Bas sekaligus selesainya pendidikan S.3/Doktor penulis yang cukup lama sekitar 16 tahun. Itu pun setelah berkali-kali diberi peringatan keras oleh Direktur Pascasarjana UIN SH Jakarta Prof. Dr. Azyumardi Azara, M.Phil., M.A., C.B.E.

    Kembali ke soal ketokohan dan kemimpinan terdahulu, menurut pengamatan penulis maupun berdasarkan pergaulan langsung, Uda Bas masih bertahan dengan pola lama kepemimpinan masyarakat.

    Secara alamiah dimulainya kepemimpinan itu di bisnis, kemudian menjalar dan simultan dengan dunia media. Secara bersamaan juga sebagai pemimpin masyarakat yang aktif di sekitar 30 organiasi profesi, yayasan, organisi social, dan kemasyarakatan di tingkat lokal dan nasional.

    Akan banyak pertanyaan, mengapa Uda Bas tidak mengembangkan ketokohannya ke spektrum politik. Padahal fenomena mutakhir setelah era reformasi 1998 sampai sekarang, terjun ke dunia politik adalah menggiurkan dan amat prospektif untuk kehidupan dan mengembangkan ketokohan serta kepemimpinan.

    Seingat penulis, Uda Bas sudah pernah menjadi penasihat Golongan Karya di Kota Padang di masa lalu. Sekarang di tengah puluhan organisasi social kemasyaratakan dan professional tadi Uda Bas juga pernah Ketua Dewan Penasihat Partai GOLKAR Provinsi Sumatera Barat. Sekarang Uda Bas menjadi penasihat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar 2015-2022.

    Setahu Penulis, Uda Bas tidak pernah menjadi anggota dan pengurus partai sejak muda sampai sekarang selain GOLKAR. Artinya, Uda Bas tidak pernah tergiur untuk pindah-pindah atau loncat-loncat partai. Alasannya, cukup transparan.

    Agaknya di antara alasan itu, Uda Bas menajadi aktivis, penasihat dan pembina partai bukanlah lantaran haus kekuasaan atau ingin memenangkan sebuah kursi politik. Pada pemahaman penulis, Uda Bas masuk partai itu seakan sama saja baginya dengan masuk ke organisasi social, masyarakat dan professional yang dia geluti yang lain tadi sejak masa mudanya sampai hari ini.

    Akan tetapi sebuah budaya pluralitas politik telah dipupuk Uda Bas dalam keluarganya. Semenjak wafatnya ayahanda H. Marah Djabar dan Ibu Hj. Hafsah, Uda Bas adalah patron utama, sekaligus mungkin “role model” dalam keluarga ini.

    Maka adalah atas restu Uda Bas agaknya di dalam keluarga ini ada sejumlah politisi yang berhasil lolos ke kursi politik dari berbagai partai politik. Adiknya H. Bahrum Yonda Djabar, S. IP duduk di kursi DPRD Sumbar (1992-1997 dan 2004-2009) melalui Partai GOLKAR.

    Adiknya yang lain H. Dasrul Djabar duduk di kursi DPR RI dari Partai Demokrat—konon sangat dekat dengan Presiden SBY waktu itu. Dan menantunya H. Fetris Oktri Hardi, SE, SH., M. Si, duduk di kursi DPRD Provinsi Sumbar dari Partai Persatuan Pembangunan.

    Sebuah “orchestra politik” yang harmonis agaknya hidup subur dalam keluarga ini. Walaupun demikian untuk dirinya sendiri, Uda Bas kelihatannya tidak tertarik untuk ikut merebut kursi politik melalui Pemilu. Maka kalaupun Uda Bas menjadi Ketua Dewan Penasihat Partai GOLKAR Sumbar, agaknya itu baginya hanya suatu keikhlasan dalam mengabdi dan memberikan yang terbaik untuk ummat dan bangsa dalam arti yang lebih luas.

    Dalam arti yang lebih sempit adalah untuk komunitasnya di ranah dan rantau Minang . Dengan kata lain, Uda Bas, terbebas dari rayuan politik untuk kekuasaan. ***([email protected])

    View Full
  • datiak
    30.08.2021 - 8 monts ago

    Operasi Ketupat Singgalang 2021 di Mentawai Edukasi Prokes

    Operasi Ketupat Singgalang 2021 di Mentawai Edukasi Prokes

    Mentawai | Datiak.com – Polres Kabupaten Kepulauan Mentawai menggelar rapat koordinasi terkait Operasi Ketupat Singgalang 2021 di masa pademi Covid-19. Kegiatan itu dihadiri langsung oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet. Selain itu, di sana juga terlihat Komandan Kodim 0318/Mentawai Letkol Czi Bagus Mardyanto. Rapat yang digelar di Aula Mapolres Mentawai Km 9, Tuapejat itu,…

    View On WordPress

    #Berita Mentawai#Berita Sumbar #Kodim 0319 Mentawai #Operasi Ketupat Singgalang #Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai #Polres Mentawai
    View Full
  • ingatlah
    03.08.2021 - 9 monts ago

    Gubernur Sumbar: Mari Kibarkan Merah Putih Sebulan Penuh

    Gubernur Sumbar: Mari Kibarkan Merah Putih Sebulan Penuh

    PADANG – Gubernur Sumbar, buya Mahyeldi menghimbau seluruh masyarakat untuk memasang bendera merah putih, umbul-umbul dan baliho selama bulan Agustus 2021 guna memeriahkan hari Kemerdekaan ke-76. Hal itu disampaikannya melalui Surat Gubernur nomor : 489/416/Adpim-2021, tentang Pedoman Peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan RI tertanggal tanggal 30 Juni 2021. Menurut buya, setiap masa memiliki tantangan…

    View On WordPress

    View Full
  • ingatlah
    02.04.2021 - 1 year ago

    Givo Alputra, Wartawan Singgalang Diganjar Penghargaan"Photo of The Year" APFI 2021

    Givo Alputra, Wartawan Singgalang Diganjar Penghargaan”Photo of The Year” APFI 2021

    INGATLAH, PADANG – Givo Alputra menerima penghargaan ‘Photo of The Year’ Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2021 di Perpustakaan Nasional Jakarta, Jumat (2/4) Karya wartawan Harian Umum Singgalang Padang  itu diganjar atas penghargaan karya foto jurnalistik se- Tanah Air dengan foto  berjudul ‘Lahir di Tengah Pandemi’. “Alhamdulillah,sudah empat tahun saya bergelut dalam foto jurnalistik,…

    View On WordPress

    View Full
  • ordinarymanjournal
    19.02.2021 - 1 year ago

    Some peace

    Picture: https://id.pinterest.com Beautiful when we see it from the far Bukik KumayanTanah Datar RegencyWest Sumatera Just Take a break on:IG @fahrie14FB @fahrieshahFB Page @Shah ArtTwitter @fahrie_shahPinterest @fahri21Beacons @fahrie

    View On WordPress

    View Full
  • ordinarymanjournal
    15.02.2021 - 1 year ago

    Still There

    Picture: https://id.pinterest.com I not change, they are. Entire time, I still stand there.. BukittinggiWest Sumatera Just Take a break on:IG @fahrie14FB @fahrieshahFB Page @Shah ArtTwitter @fahrie_shahPinterest @fahri21Beacons @fahrie

    View On WordPress

    View Full
  • ordinarymanjournal
    07.01.2021 - 1 year ago

    Lereng Singgalang

    Picture: Pinterest Di negeri kami terdapat dua gunung yang teramat cantik, berdua mereka berdiri berdampingan. Seperti kata Nyiak Hatta[1] dalam memoar beliau “Bak dua sejoli yang bergandengan tangan..”. Marapi dan Singgalang, demikianlah nama dua sejoli itu. Kedua gunung itu menjadi incaran bagi para pendaki untuk ditaklukkan. Pada kedua gunung, masyarakat telah membuat pemukiman hingga ke…

    View On WordPress

    View Full