#bapaktua Tumblr posts

  • innaramadani
    28.10.2020 - 1 year ago

    Bapak Tua

    Pagi ini, usai Shalat Subuh, tiba-tiba aku mengingat kembali seorang bapak tua (selanjutnya mari kita sebut Bapak Tua).

    Bapak Tua yang beberapa kali aku temui (tanpa sengaja) di jalan. Beliau adalah seorang penjual terang bulan keliling yang sampai saat ini aku belum tahu namanya.

    Agak aneh. Tapi memang kadang aku seperti ini.

    Seperti kadang saat aku makan sate, aku akan ingat kembali seorang anak kecil yang pernah bilang bahwa makanan kesukaannya adalah sate namun dia merasa sudah lama sekali tidak bisa makan sate.

    Kadang saat aku ingin membeli sepatu, lalu aku diingatkan kembali tentang seorang anak jalanan yang menginginkan sepasang sepatu baru untuk sekolah, tapi sulit sekali membelinya.

    Bahkan sekadar aku jajan di minimarket, aku pun kadang ingat tentang seorang Ibu yang tanpa sengaja aku temui di kasir minimarket. Ibu peminta-minta yang menolak rengekan anaknya untuk membelikannya sosis so nice.

    Aneh, kan?

    Menurut banyak orang, aku sulit mengingat hal-hal penting, janji bertemu, nama teman lama, dan sebagainya. Tapi anehnya, malah aku mudah mengingat hal-hal sederhana seperti itu.

    Kembali tentang si Bapak Tua.

    Bapak Tua yang beberapa kali berpapasan denganku ketika aku hendak kulakan atau ketika aku akan ke ATM.

    Sampai saat ini aku belum sempat bertemu dan berbincang secara langsung dengannya.

    Aku mulai memperhatikannya ketika aku berpapasan dan ia sedang makan terang bulannya di pinggir jalan. Iya, ia memakan dagangannya sendiri untuk sarapan. Entah kenapa saat itu aku sadar bahwa tidak ada yang namanya kebetulan.

    Eh lah kok sekarang malah rasanya sulit sekali untuk kembali bertemu dengannya.

    Kemarin sore, aku ingin sekali menemuinya sampai-sampai di tengah jalan aku berbicara dengan Allah.

    "Ya Allah, pertemukan aku dengan Bapak itu." Tidak perlu spesifik, bapak siapa dan dimana, tentu saja Allah paham maksudku.

    Tetapi,

    Lagi-lagi nihil.

    Iya, beberapa kali aku mencarinya di jalan biasa aku berpapasan dengannya tapi tidak ketemu juga.

    Ya sudah, aku bawa pulang.

    Oiya, kenapa sewaktu berpapasan aku tidak membeli dagangannya?

    Haha. Simpel, karena aku tidak suka terang bulan.

    Bisa saja aku membelinya sih tapi rasanya semakin tidak manusiawi jika makanan yang dibeli berakhir mubazir dan terbuang.

    Lagipula, Ibuku sering menggerutu kalau aku pulang membawa 'benda' yang tidak dibutuhkan. "Wes mesti muleh nukoni barang ra penting," katanya.

    Iya, terlampau sering. Bukan karena Ibuku tidak suka atau pelit ya, jelas bukan wong ibuku sendiri yang mengajari untuk selalu berbagi sejak kecil.

    Ibuku hanya tidak suka karena mubazir. Rasanya barang-barang itu semakin membuat rumahku yang kecil makin sesak atau kalau makanan berakhir mubazir di tempat sampah.

    Kenapa tidak dibagi ke tetangga saja? Kadang kalau enak, aku bagi. Tetapi kalau enggak enak? Masa mau dibagi ke tetangga?

    Tidak baik memberi hanya karena kita tidak membutuhkannya atau karena kita tidak menyukainya. Justru kita harus memberi sebaik-baiknya.

    Ya sudah, mungkin belum waktunya bertemu saja dan maunya dapat segera kembali bertemu. Doakan ya.

    Dimanapun Bapak Tua berada, aku berharap Allah selalu memberi perlindungan. Segala kesulitannya dipermudah, bahkan bila perutnya kosong dan laparpun segera Allah kenyangkan.

    Semoga Allah 'ciptakan' kebetulan-kebetulan lain biar hidupku lebih bermanfaat.

    EDIT EDIT EDIT WOYYYY!!!

    Setelah beberapa Minggu, aku menulis cerita ini. Akhirnyaaa.....

    Aku menemukannya....

    Tanpa sengaja, aku lewat, beliau sedang istirahat di pinggir jalan.

    Lalu tanpa pikir panjang aku putar balik, mencari sesuatu dan menemuinya.

    Tidak, aku tidak memberi hadiah rumah kok. Uang darimana? Wong aku saja masih numpang dirumah orang tua.

    Semampuku saja.

    Kalau kalian tanya bagaimana perasaanku saat itu?

    Wah aku senang sekaliiiii.

    Leganyaaaaaa....

    Seperti sudah berhari-hari perut melembung kayak orang hamil, ngempet nggak bisa eek eh ujuk-ujuk dimudahkan untuk pembuangan seketika itu juga.

    Sedikit berlebihan, mungkin? Entah, rasanya lega saja. Ada keinginan yang tercapai pasti senang, kan?

    Cobalah.

    Aku selalu berpikir, ada hak-hak orang lain dalam setiap rezeki yang aku miliki.

    Adilnya Allah itu disaat kita diberi rezeki, ya berbagilah. Nggak mesti Allah turun tangan langsung meratakan semua rezeki setiap manusia. Si A punya ini, si B juga harus punya. Lah kok penak men.

    Justru harusnya kita, manusia yang turun tangan berbagi.

    Katanya mau surga, masa mau enak-enaknya aja? Ngga tahu diri, namanya.

    Rezeki bukan hanya materi ya.

    Misalnya, rezeki sehat. Siapa tahu saat kita sehat, ketika air kran mati, ada tetangga yang tidak mampu menimba air sumur, kita dimampukan menimba untuk membantunya.

    Atau ketika kita nongkrong di hik bersama teman. Lalu lewat seorang pemulung. Meskipun sisa uang hanya lima ribu rupiah dikantong, hati tergerak membelikan nasi kucing dan tempe. Itu sudah cukup.

    Tidak perlu muluk-muluk harus ini-itu dulu. Apalagi menunggu kaya atau berlebih untuk memberi.

    Ngenteni sugeh, selak modyar.

    Selak nganti mati yora isoh ngekeki.

    Pora eman?

    Berbagi semampunya saja. Seadanya.

    Kan nggak ada syarat dan ketentuan berlaku. Jadi sesukanya saja deh.

    Banyak kemungkinanlah. Terka saja. Lalu lakukan.

    Tidak ada namanya kebetulan, kan? Dipertemukan pasti ada sebab.

    Semoga Allah rendahkan hati sajalah, nggak minta neko-neko.

    Secukupnya. Seadanya, tapi tetap selalu dimampukan berbagi dan memberi.

    View Full
  • myworldisrule
    06.04.2015 - 7 years ago

    Bapak tua yang penuh dengan keistimewaan, terimakasih karena telah membuka mata saya bahwa dunia itu terlalu indah klo dipenuhi keluh kesah, terimakasih karena membuka hati saya untuk belajar membaca takdir Tuhan, terimakasih karena memberikan energi untuk selalu menjalani kehidupan dengan iklas dan lapang dada. Terimakasih pak, semoga bapak sehat, dan selalu dimuliakan Allah.

    View Full
  • View Full